kcblforum

Sarana Komunikasi buda2 KCBL di dunia cyber
 
IndeksIndeks  GalleryGallery  Web Blog KCBLWeb Blog KCBL  FAQFAQ  AnggotaAnggota  GroupGroup  PencarianPencarian  PendaftaranPendaftaran  LoginLogin  
December 2016
MonTueWedThuFriSatSun
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
CalendarCalendar
Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
MENU KCBL FORUM
 Home
 KCBL forum
 Anggota
 Profil
 FAQ
 Pencarian
 Pendaftaran Anggota
Latest topics
» This post is beyond awesome
Tue 02 Aug 2011, 22:26 by Tamu

» x-Hack hack you
Fri 29 Jul 2011, 04:28 by Tamu

» Nonton TV Online via PC - RCTI, MetroTV, TransTV, SCTV, TVONE
Tue 15 Jun 2010, 18:27 by raddscan

» ADD URL or SUBMIT URL situs Anda
Tue 12 Jan 2010, 16:29 by raddscan

» Pusat informasi beasiswa s1 s2 s3 Dalam dan Luar Negeri
Sat 09 Jan 2010, 02:07 by raddscan

» INFO Lowongan kerja 2011 terbaru
Fri 01 Jan 2010, 17:07 by raddscan

» Bedah Buku : "Deadly Mist"
Mon 03 Aug 2009, 22:36 by Q2

» OPO SIH PHP IKU?
Mon 27 Jul 2009, 22:34 by Sufi Road

» Ternyata Tubuh Manusia Bercahaya
Mon 27 Jul 2009, 22:25 by Sufi Road

Poll
Menurut sobat KCBL, perlu ngga di rayakan 1 th web kcbl terbentuk?
perlu di rayakan
75%
 75% [ 3 ]
ngga perlu di rayakan
0%
 0% [ 0 ]
no comen
0%
 0% [ 0 ]
Bingung
25%
 25% [ 1 ]
cape deh
0%
 0% [ 0 ]
Total Suara : 4
Top posters
Q2
 
Admin KCBL Forum
 
Sufi Road
 
Indy
 
raddscan
 
team leader
 
e2n
 
indoroids
 
benk2
 
Sallwa
 
Statistics
Total 43 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah order1

Total 129 kiriman artikel dari user in 122 subjects
User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

User online terbanyak adalah 18 pada Sat 19 May 2012, 14:16

Share | 
 

 Tasawuf Bagi Kaum Muda

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Sufi Road
Moderator
Moderator


Jumlah posting : 12
Registration date : 11.03.09

PostSubyek: Tasawuf Bagi Kaum Muda   Mon 13 Apr 2009, 23:22



Prof. DR. Ahmad Mubarok, MA
Ketua Program Pasca Sarjana UIN & Pengamal Thariqat Syadziliyah

Sudah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Negara, kekuasaan kerapkali digunakan untuk mengondisikan agar rakyat tetap berada dalam kebodohan yang berujung pada langgengnya kekuasaan, bertahannya status quo dan dominasi tak akan tergugat. Pada saat yang sama, ketika kekuasaan telah mendominasi kehidupan suatu bangsa, muncul gerakan perlawanan baik dilakukan dengan diam-diam atau secara terbuka.

Kaum muda, terutama di Indonesia, memiliki catatan yang membanggakan dalam merobohkan kemapanan kekuasaan yang menghisap darah segar anak-anak kandung ibu pertiwi. Sebut saja peristiwa Sumpah Pemuda 1928, misalnya, ia merupakan hasil gemilang kaum muda dalam membangkitkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air, yang berlanjut pada proses lahirnya proklamasi 17 Agustus 1945.

Begitu pula dengan gerakan tasawuf (biasanya sering diidentikan dengan gerakan tarekat), ia senantiasa hadir membawa bendera perubahan dan pencerahan ketika kekuasaan, baik lokal maupun mondial, telah dijadikan alat pembodohan masal yang anti kemanusiaan dan anti ketuhanan. Sebut saja, misalnya, sikap non kooperatif yang ditunjukkan kelompok tarekat rifa'iyyah sebagai wujud penentangan penjajahan Belanda, yang berujung dibuangnya KH Ahmad Rifa'i (selaku pimpinan tarekat) ke Ambon, Mei 1859, oleh pemerintah kolonialis. Hal yang sama juga berlaku pada Perisitwa "Pemberontakan petani Banten 1888 ", yang merupakan gerakan "massa petani" Banten yang dilandasi kesadaran tarekat dalam menghadapi kekuasaan kolonialisme Belanda yang menindas.

Dan kini, ketika kegagalan melanda manusia moderen yang tidak dapat diatasi oleh keunggulan IPTEK dan kebesaran ideologi semacam sosialisme - komunisme atau kapitalisme - liberalisme, tasawuf (atau malah gerakan tarekat) yang bersumber dari agama mulai dilirik kembali. Mereka menaruh harapan akan ditemukannya pemecahan dari problema yang muncul akibat kemajuan dunia global.

Berikut wawancara Cahaya Sufi bersama Prof. DR. Achmad Mubarok, MA seputar Tasawuf dan Kaum Muda disertai analisa kritis atas munculnya fenomena Amrozi, AA Gym - Arifin Ilham dan Ulil Abshar Abdalah dengan JIL nya.

Apa komentar anda tentang maraknya fenomena tasawuf di Indonesia, khususnya Jakarta, akhir belakangan ini ?
Tasawuf selalu relevan di setiap zaman. Terlebih dalam dunia moderen yang yang sarat tipu daya, cinta dunia, menggunting pita dalam lipatan, musang berbulu domba, tasawuf menjadi sangat relevan. Tapi….

Tapi, apa ?
Anda harus melihat fenomena tersebut secara proporsional dan jangan diputus dari sejarah masuk dan sepak terjang gerakan tasawuf atau gerakan tarekat di Indonesia.

Jelasnya ?
Islam yang masuk ke Indonesia ada dalam dua format; format pertama, fiqh dan format kedua tasawuf. Tasawuf masuk ke Indonesia dalam suasana kita melawan penjajah. Sehingga sejarah tarekat di Indonesia mencatat bahwa gerakan ini juga melakukan perlawanan kepada penjajah seperti pemberontakan Garut dan Banten.

Meski demikian, harus dicatat, bahwa fungsi tarekat ketika itu cuma dijadikan benteng pertahanan saja. Gerakan tarekat hanya memberikan ketahanan untuk bertahan hidup dari penderitaan akibat penjajahan, tidak sampai berhasil membangun sebuah bangsa. Nah ini fenomena tarekat di Indonesia. Berbeda dengan gerakan tarekat di Afrika, disamping efektif untuk melawan penjajah, gerakan tarekat disana mampu melahirkan Negara Libia. Libia moderen itu dilahirkan oleh kelompok tarekat loch !?
Sesudah itu ?
10-20 tahun pasca 17 Agustus 1945, tarekat banyak dianut oleh orang-orang awam dan pedesaan. Tarekat waktu itu masih dijadikan untuk lari dari kenyataan dunia. Karenanya, meski NU (Nahdhatul Ulama) memiliki lembaga tarekat, sumbangsihnya kepada pembentukan Negara yang lebih moderen sangat minim dirasakan. Waktu itu, masih banyak orang yang berpikiran bahwa urusan Negara itu urusan orang-orang kafir. Ulama-ulama kita saat itu banyak yang terjebak pada perdebatan fiqhiyyah seperti bagaimana hukumnya memakai celana panjang, dasi dan sebagainya.

Belakangan ini, ditengah kehidupan kaum muda muslim Indonesia muncul tiga kutub anak muda yang nampaknya tidak bertemu dalam masing-masing aksi ketiganya. Pertama, kutub Amrozi dkk dengan JI nya. Kedua, Kutub pemikiran yang diwakili Ulil Abshar dengan JIL nya. Ketiga kutub ruhani, yang diwakili AA Gym dan Arifin Ilham,. Fenomena apa ini ?
Kategorisasi yang anda berikan itu cuma perbedaan cara berpikir saja. Amrozi c.s dengan JI nya itu fundamentalisme aksi. Ulil dan JIL nya itu fundamentalisme pemikiran sedangkan AA. Gym dan Arifin Ilham fundamentalisme ruhani. Meski demikian kesemua mereka itu masih "mentah" dalam kutubnya masing-masing.

Jelasnya ?
Saya cuma ingin katakan bahwa dalam diri Amrozi ada dua kutub, yaitu kelemahlembutan dan kekerasan. Ia seperti lebah yang sepertinya tidak berbahaya, tetapi jika diganggu ia dengan sangat cepat bisa menyengat musuh.

Ia sudah terlanjur terlibat dalam konflik global, tetapi secara akademik ia yang hanya droup out madrasah aliyah tak pernah bersentuhan dengan filsafat, oleh karena itu ia tidak bisa berfikir secara mendasar.
Ia selalu memusatkan diri pada panggilan jiwanya, tetapi kurang memahami peta perjuangan. Ia siap mati demi keyakinan agamanya, tetapi ia miskin pengetahuan tentang taktik dan strategi perjuangan global. Ia siap menyerang kepentingan Amerika dimanapun berada, tetapi ia tidak bisa membedakan antara Amerika dan Australia. Ia siap membuat kalut Amerika, tetapi tidak bisa melihat bahwa dampak negatif dari aksinya justru lebih banyak menimpa negerinya sendiri (Indonesia) dan lebih banyak menimbulkan kesulitan bagi kaum muslimin yang dibelanya. Nah, Kondisi obyektif Amrozi ini hampir serupa dimiliki oleh teman-teman Amrozi.

Bagaimana dengan Ulil dan JIL nya ?
Menurut saya mereka tidak sabar melihat perjalanan NU (Nahdlatul Ulama). Mereka sudah kebelet lari, tapi NU (menurut anak-anak mudanya) tak beranjak setapak pun. Mereka "kesel" dan jumping. Mereka loncat kalau tidak ke Marxisme ya ke Liberalisme. Dalam dunia intelektual mereka membentuk JIL dan dalam format politik praktis mereka membangun FORKOT.

Saya pernah mendamaikan Ulil dengan Kiyai Athian (Ketua Forum Ulama Umat Islam Bandung; red) yang pernah menghalalkan darah Ulil. Apa kata Kiyai Athian ?, Ulil Abshar harus dihukum mati karena menghina Tuhan. Apa jawab Ulil? Saya tidak menghina Tuhan, saya mu'min, saya mencintai Islam, memeluk Islam lahir dan batin, tapi saya menghina pandangan kiyai yang memandang kiyai sendiri sebagai pandangan Tuhan. Itu yang saya hina. Pernyataan Ulil sangat substansial sekali.

Saya banyak kenal temen-temen JIL. Bersama Musdah (Siti Musdah Mulia; red) saya terlibat dalam penggodogkan Counter Legal Drafting Kompilasi Hukum Islam. Ketika banyak orang mengkritik kedekatan saya dengan teman JIL, saya cuma menjawab; ana fiihim bal lastu minhum (ya, saya ada bersama mereka tapi saya bukan bagian dari mereka; red)
Tapi yang ingin saya sampaikan disini bahwa apa yang diucapkan Ulil dan JIL nya bukan hal yang baru, dulu Cak Nur (Nur Kholis Madjid; red) pernah melontarkan pikiran-pikiran kontroversialnya lebih tajam dan substansiil. Bahkan sebenarnya yang disampaikan Ulil itu masih mentah, lebih matang yang pernah dilontarkan Cak Nur di era 70-an. Lihat aja, ujung-ujungnya Cak Nur sekarang lebih arif dan bisa diterima banyak orang dan sangat sufistik. Satu saat mereka (Ulil c.s; red) bakal menemukan format jiwanya sendiri.

Dengan kutub AA Gym dan Arifin Ilham bagaimana ?
Segala sesuatu ada sejarahnya. Tasawuf sebenarnya muncul sebagai solusi krisis. Pertamakali tasawuf muncul di dunia islam, ketika dunia Islam dilanda oleh materialisme, pada generasi tabi'in diperiode Umayyah. Ketika materialisme melanda sahabat dan tabi'in, maka munculah Hasan al Basri yang menawarkan paradigma lain, lahir berikutnya al Gazali dan lain sebagainya.

Jadi setiap kali ada krisis, akan muncul sufisme. Di Indonesia juga begitu, ketika krisis melanda Indonesia 1997, maka fenomena tasawuf menjadi luar biasa, buku tasawuf dan majalah semacam Cahaya Sufi ini laku keras yang dibarengi dengan kemunculan Arifin Ilham, AA Gym dan Ary Ginanjar. Semua itu berangkat dari kebutuhan psikologis secara massal.

Saya cuma ingin menegaskan bahwa anak-anak muda yang meminati tasawuf sekarang ini masih baru dalam kerangka defensif saja. Mereka galau menjalani realitas kehidupan, kemudian mereka menemukan tasawuf dan merasa cocok dengan tasawuf karena tasawuf dirasa memberi solusi yang mereka cari selama ini.

Jangankan anak-anak muda kita, psikolog-psikolog Barat sekarang ini banyak yang masuk ke wilayah kecerdasan spiritual, yang sebenarnya merupakan wilayah tasawuf. Tapi karena pengaruh budaya sekuler, kecerdasan spiritual yang mereka miliki hanya melayang-layang saja dan tidak akan pernah menukik menyelesaikan masalah.

Apa ada yang salah cara beragama anak muda sekarang ?
Yang salah itu keadaan. Mereka lahir kedunia bukan atas kemauan sendiri, situasi yang dijumpai sekarang juga bukan situasi yang mereka inginkan. Mereka menghadapi realita seperti ini maka begitulah respon mereka.

Bagaimana solusinya untuk yang akan datang ?
Bangsa ini butuh pemimpin besar. Orang besar adalah orang yang mampu berfikir, merasa, dan cita rasanya itu melampaui sekat-sekat ruang dimana ia berada, waktu dimana ia hidup. Itu orang besar. Karenanya si orang besar harus berfikir 50 tahun kedepan atau 100 tahun kedepan. Kalau dia berbuat dia menyadari bahwa yang diperbuat itu juga akan ditonton dan direspon oleh 200.000.000 orang.

Kalau pemimpin besar ini punya ghiroh (semangat) tasawuf itu yang akan secara alami merontokkan penyakit nasional seperti korupsi, maksiat dan lain sebagainya. Korupsi di Indonesia sudah menjadi konsep, budaya. Semua orang korupsi dan tidak merasa bersalah; ah yang lain juga begitu !. Nah ini harus diatasi dengan contoh pemimpin yang diikuti dengan peraturan, tetapi untuk masyarakat kita keteledanan yang tinggi itu lebih efektif ketimbang demokratisasi. Demokratisasi ?, lihat saja pilkada, tidak melahirkan banyak manfaat apa-apa, karena orang masih bisa dibayar, tetapi kalau keteladanan pemimpin itu efektif. Dan keteladanan itu yang dicari anak-anak muda sekarang.

Nah, kiranya untuk konteks kekinian, hanya pemimpin yang bertasawuf saja yang dapat memberikan keteladanan pada generasi mendatang. Sehingga pendekatan sufistik di era sekarang ini tidak lagi pada mencari jalan keselmatan, lebih dari itu sebuah pendekatan sufistik yang dapat membangun masa depan.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Tasawuf Bagi Kaum Muda
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
kcblforum :: WAJIB DIBACE BAGI MEMBER KCBL FORUM :: HEADLINE NEWS KCBL-
Navigasi: